This is an Indonesian-English bilingual entry.

Berkunjung ke Milan, Italia, rasanya belum lengkap jika belum berfoto di Piazza del Duomo dengan latar belakang katedral dan Galleria Vittorio Emanuele II. Atau berbelanja produk fashion terkini. Atau mengunjungi Stadion San Siro maupun markas klub AC Milan atau Internazionale bagi penggemar sepakbola. Namun tak jauh dari keramaian tempat-tempat tersebut ada sebuah taman pemakaman yang dapat didatangi wisatawan yang ingin mencari sedikit ketenangan.

For many travellers to Milan, a visit to the Italian city would be incomplete without a shot or two in front of the cathedral and Galleria Vittorio Emanuele II on the Piazza del Duomo, or spending on the latest fashion trends, or (for football lovers) a visit to San Siro Stadium and headquarters of AC Milan or Internazionale. But to those who want to escape for a while from the crowds and noise, there is a cemetery park located not far from those typical tourist attractions.

cimitero-monumentale-milano-2

cimitero-monumentale-milano-3
The Famedio

Memang tak banyak orang menjadikan taman pemakaman sebagai tujuan wisata. Mereka yang berkunjung ke sana biasanya datang untuk berziarah ke makam tokoh terkenal atau sekadar untuk melihat keunikan makam-makam di sana. Cimitero Monumentale, atau Monumental Cemetery, adalah taman pemakaman di Milan yang memenuhi kedua syarat tersebut: tokoh terkenal dan makam unik. Lokasinya hanya sekitar dua kilometer arah barat stasiun pusat Milano Centrale. Gedung-gedung pencakar langit di Piazza Gae Aulenti terlihat jelas dari pintu masuk kompleks. Menempati lahan seluas 250.000 meter persegi, taman pemakaman ini awalnya dibangun untuk menggantikan enam taman pemakaman yang tersebar di berbagai penjuru kota. Dewan Kota Milan ketika itu menggelar kompetisi dan desain yang diajukan arsitek Carlo Maciachini menarik perhatian mereka. Setelah masa konstruksi selama tiga tahun, Cimitero Monumentale diresmikan pada 2 November 1866.

Not many people include visits to cemetery parks in their travel itineraries. Those who do usually intend to visit the grave of a famous figure or merely to see the distinctive features of the tombs in the park. Cimitero Monumentale, or Monumental Cemetery, is a cemetery park in Milan that meets both conditions: famous people and unique tombs. The park is just two kilometres west of the Milano Centrale (Milan Central Station). The skyscrapers in Piazza Gae Aulenti are clearly visible from the entrance to the cemetery. Taking up 250,000 square metres of land, the cemetery park was initially built to replace six cemeteries scattered around the city. A design submitted by architect Carlo Maciachini won the competition held by the Milan City Council. After three years of construction, Cimitero Monumentale was officially opened on 2 November 1866.

cimitero-monumentale-milano-4

Di bagian muka kompleks pemakaman terdapat bangunan utama yang berbahan dasar marmer dan batu bata. Bangunan ini disebut Famedio. Letaknya di puncak rangkaian tangga setinggi lima meter. Famedio menjadi tempat diabadikannya warga Milan yang berjasa baik bagi kota maupun negara. Nama-nama mereka menghiasi dinding dalam Famedio. Di antaranya tertera nama Herbert Kilpin, pendiri AC Milan, dan Giorgio Muggiani, pendiri FC Internazionale.

At the front is the park’s main building, the Famedio, made of marble and bricks. It is located on top of a series of stairs five metres high from the ground. Famedio is a place to honour Milanesi who have made positive contributions to either the city or the country; their names adorn the inner walls of the Famedio, among them are Herbert Kilpin’s, founder of AC Milan, and Giorgio Muggiani’s, founder of FC Internazionale.

Tepat di tengah-tengah ruangan utama Famedio, di bawah kubah berornamen yang didominasi warna biru tua, berdiri sarkofagus Alessandro Manzoni. Manzoni adalah sastrawan kenamaan Italia yang lahir dan wafat di Milan. Novelnya I Promessi Sposi merupakan karya sastra bernilai tinggi dan disejajarkan dengan La Divina Commedia karya Dante Alighieri. Dilihat dari posisi makamnya, bisa dikatakan Manzoni adalah warga Milan yang paling dihormati.

Right in the middle of the Famedio main chamber, below the dark blue ornamental dome, stands the sarcophagus of Alessandro Manzoni. Manzoni was Italy’s renowned poet and novelist who was born and died in Milan. His novel I Promessi Sposi is a literary masterpiece considered equal to Dante Alighieri’s La Divina Commedia. Judging from the position of his tomb, Manzoni could be Milan’s most revered citizen.

cimitero-monumentale-milano-10

Galeri di sisi kiri dan kanan Famedio disebut Loggia. Area ini dipenuhi bermacam-macam sarkofagus, beberapa di antaranya dihiasi seni patung dalam berbagai model. Terdapat juga kolumbarium kecil tempat menyimpan abu jenazah; Cimitero Monumentale memiliki krematorium sendiri, letaknya di bagian belakang kompleks pemakaman. Di bawah Famedio terdapat crypt yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para tokoh penting dari berbagai bidang. Salah satunya adalah pesepakbola legendaris Inter dan Milan, Giuseppe Meazza, yang namanya diabadikan sebagai nama resmi Stadion San Siro.

The galleries extending to the sides of the Famedio are called Loggia. Various sarcophagi are scattered around the area, some adorned with sculptures in a variety of styles. There is a small columbarium in the Loggia; the cemetery has its own crematorium located at the back. A crypt below the Famedio is where a number of famous figures are laid to rest, one of them being Giuseppe Meazza, a legendary football star who played for both Inter and Milan and whose name was immortalised as the official name of the clubs’ San Siro Stadium.

cimitero-monumentale-milano-11

cimitero-monumentale-milano-12

cimitero-monumentale-milano-13

Taman pemakaman Cimitero Monumentale memang terkenal karena makam-makamnya yang berbentuk monumen serta dihiasi berbagai rupa patung. Ratusan, mungkin ribuan patung, relief dan ornamen ukir dalam segala bentuk dan gaya ada di sini. Laki-laki, perempuan, anak-anak, hewan, makhluk mitologi, malaikat, tokoh bibel, bahkan patung dada si pemilik kubur terhampar di depan mata begitu memasuki area taman. Ekspresi yang ditunjukkan pun beragam. Meratap, penuh harap, hingga yang sukar ditebak dan bergantung pada interpretasi setiap individu. Misalnya patung kepala Medusa beserta seorang pria yang mengenakan topi pilot pesawat tempur pada salah satu makam di sisi barat.

Cimitero Monumentale is actually famous for its monumental graves that are often decorated with sculptures. Hundreds, if not thousands of statues, reliefs and ornamental carvings in various shapes and styles can be found here. Statues of men, women, children, animals, mythological creatures, angels, biblical figures, even busts of the buried will immediately catch any visitor’s eyes as soon as they enter the park. Not only the statues’ shapes that vary, so do their expressions. Sorrowful, hopeful, even those that are difficult to guess and depend on individual interpretations, such as the statue of Medusa’s severed head with a man wearing fighter pilot cap on a grave at the western side of the park.

Patung-patung tersebut bukan karya seni sembarangan. Perupa-perupa ternama Milan turut terlibat dalam menjadikan Cimitero Monumentale tempat bak galeri seni. Dengan usia taman pemakaman yang telah mencapai 150 tahun, patung-patung di dalamnya merupakan pameran hasil karya berbagai aliran lintas periode, dari realisme hingga simbolisme, art deco sampai modernisme. Tak heran taman pemakaman ini kerap disebut museum ruang terbuka.

These statues are not random artworks. Milan’s famous sculptors were involved in turning Cimitero Monumentale into an art gallery. With the cemetery park having been around for 150 years, the statues in the park are a showcase of artworks across periods, from realism to symbolism, art deco to modernism. No wonder this place is often called an open-air museum.

Anggota keluarga terpandang Milan, terutama dari dinasti bisnis, umumnya memilih dimakamkan bersama dalam mausoleum kecil berbentuk monumen yang tersebar di dalam kompleks. Bangunan-bangunan ini mendominasi area di sekitar osuarium yang terletak di tengah-tengah taman pemakaman. Ada yang menggunakan marmer, bata merah hingga desain modern yang didominasi kaca.

Members of Milan’s prominent families, especially business dynasties, usually prefer to be buried together inside small monumental mausoleums scattered around the park. These structures dominate the area surrounding the ossuary in the middle of the cemetery park. There are mausoleums made of marble and red bricks, and there are those modernly designed, made almost entirely of glass.

cimitero-monumentale-milano-20cimitero-monumentale-milano-22

Yang tidak membangun mausoleum pun memiliki makam yang tak kalah artistik. Keluarga Davide Campari, misalnya, membuat patung-patung perunggu seukuran manusia yang menggambarkan peristiwa Perjamuan Terakhir. Makam milik keluarga pendiri Campari—merk aperitif terkenal asal Milan—ini menjadi tempat yang tak boleh dilewatkan saat mengunjungi Cimitero Monumentale.

Even those who did not build a mauseloum have tombs that are equally artistic. The family of Davide Campari, for instance, made life-sized bronze statues that depict the Last Supper. This family tomb of the founder of Campari–a famous apéritif brand from Milan–is a spot not to be missed when visiting Cimitero Monumentale.

cimitero-monumentale-milano-23
Davide Campari tomb

Membaca nama-nama yang tertera pada makam maupun mausoleum merupakan keasyikan tersendiri. Nama-nama Italia yang telah terkenal ke mana-mana ataupun menjadi merk kelas dunia hingga tak lagi terdengar asing. Pirelli, Turati, Feltrinelli, Toscanini, dan masih banyak lagi. Bahkan ada makam seseorang bernama keluarga Bologna, nama yang bagi orang bukan Italia identik dengan sebuah kota.

Even looking at the names on the tombs or mausoleums can be a great fun. There are Italian names who have become internationally famous or become global brands that they no longer sound foreign. Pirelli, Turati, Feltrinelli, Toscanini and many more. There is even a grave for somebody whose surname was Bologna which, for non-Italians, is most commonly known as the name of a city.

cimitero-monumentale-milano-21

Taman pemakaman ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir Ferdinando Bocconi, pendiri Universitas Bocconi di Milan; peraih Nobel Sastra Salvatore Quasimodo; pianis Vladimir Horowitz yang memenangi banyak penghargaan Grammy dalam kategori musik klasik; dan tentunya arsitek yang mendesain taman pemakaman ini, Carlo Maciachini.

The cemetery park is also the final resting place of Ferdinando Bocconi, founder of Milan’s Bocconi University; Nobel (Literature) laureate Salvatore Quasimodo; pianist Vladimir Horowitz who was awarded multiple Grammys in classical music; and of course the architect who designed the cemetery park, Carlo Maciachini.

cimitero-monumentale-milano-29
Bocconi mausoleum

Dengan pepohonan rindang, suasana tenang dan monumen-monumen mengagumkan, Cimitero Monumentale dapat dijadikan “tempat pelarian” bagi wisatawan yang lelah dengan hiruk pikuk kota metropolitan Milan. Apalagi lokasinya begitu mudah dijangkau. Salah satu akses stasiun metro Monumentale pada jalur M5 terletak persis di depan pintu masuk kompleks pemakaman. Pengunjung juga bebas keluar masuk tanpa dipungut biaya. Cukup mematuhi peraturan pemakaman untuk berpakaian sopan serta tidak berisik.

The lush trees, tranquil environment and amazing monuments of Cimitero Monumentale make it a perfect spot for those visitors to Milan who wish to escape for a while from the hustle and bustle of the metropolitan city. It is easy to get there because one of the exits of Monumentale metro station on the M5 line is located right in front of the cemetery’s entrance. Visitors are free to come and go. They are only expected to dress properly and not making noises while in the cemetery park.

cimitero-monumentale-milano-30

Advertisements