This is an Indonesian-English bilingual entry.

Copenhagen cukup dikenal sebagai kota menara. Memang, dari segi jumlah maupun reputasi masih kalah dibandingkan Praha. Meski demikian, pemandangan menara-menara yang menjulang di pusat kota tak mungkin luput dari perhatian.

Copenhagen is well-known as a city of spires. Indeed, still lags behind Prague in terms of quantity and reputation; nonetheless, the view of towers soaring above the city’s skyline will not go unnoticed when you visit the Danish capital.

Yang langsung menggelitik rasa penasaran saya adalah menara Vor Frelsers Kirke (Church of Our Saviour), sebuah gereja bergaya gotik di kawasan Christianshavn. Begitu mengetahui bahwa pengunjung bisa naik ke puncak dengan tangga yang melingkari sisi luar bangunan, menaklukkan menara gereja setinggi 90 meter itu langsung masuk ke daftar must-do—bukan cuma to-do lagi—selama di Copenhagen.

I was immediately intrigued by the tower of Vor Frelsers Kirke (Church of Our Saviour), a gothic-style church in the Christianshavn neighbourhood. As soon as I knew that visitors could go up to the top through an outdoor helix stairs, conquering the 90-metre tall church tower made its way to my Copenhagen’s “must-do”—not merely “to-do”—list straightaway.

Saat itu waktu sudah lewat cukup jauh dari jam normal makan siang, sehingga saya memutuskan untuk terlebih dulu mengisi perut di sebuah kafe tak jauh dari gereja. Menghabiskan tiga potong smørrebrød khas Denmark ternyata butuh waktu lebih lama dari yang saya perkirakan. Tetapi setidaknya jadi ada ekstra berat badan untuk melawan angin di atas menara. Selesai makan saya berjalan menuju gedung gereja. Matahari bersinar cerah di langit biru, yang berarti ada dua berita baik: menara gereja pasti dibuka dan hasil foto dijamin bagus. Meski buka setiap hari, demi alasan keselamatan menara bisa ditutup sewaktu-waktu saat cuaca sedang tidak baik atau angin kencang.

It was way past the usual lunch hours so I decided to have a meal at a nearby cafe. Finishing three slices of Danish smørrebrød turned out to be a time-consuming affair. But at least I had gained extra weight to stand against the winds at the top of the tower. The sun was shining brightly in the blue sky as I was making my way to the church. That would mean good news: the church tower had to be open and I could take great pictures up there. Even though the tower opened daily, it might be closed at anytime in bad weather or very strong wind.

vor-frelser-4

Vor Frelsers Kirke diresmikan pada tahun 1696, tetapi pucuk menara (spire) dengan tangga heliksnya baru ditambahkan lebih dari lima dekade kemudian, di tahun 1752. Akses ke menara bukan melalui ruang ibadah melainkan dari pintu kecil di sisi kiri. Saya segera bergabung dengan pengunjung lainnya yang sudah berbaris mengantre hingga ke halaman samping gereja. Di balik pintu kecil itu tidak ada apa-apa selain tangga ke atas. Yah, setidaknya saya bisa langsung “mencicil” 400 anak tangga sembari mengantre, pikir saya. Tetapi “kemacetan” antrean, yang maju dengan sangat lambat sejak dari luar tadi, berakhir selepas konter tiket, satu lantai di atas pintu masuk.

Vor Frelsers Kirke was consecrated in 1696 but the spire with the helix stairs was added more than five decades later, in 1752. Access to the tower is not through the sanctuary but from a small door on the left side of the building. I immediately joined the line of visitors who had queued to enter the tower. The ascend to the tower’s 400 stairs began right inside the small door. The line of visitors moved very slowly until I reached the ticket counter, one floor (a couple of landings) above the entrance.

Harga tiket untuk naik ke menara gereja bervariasi. Di bulan-bulan musim panas, sepanjang Mei hingga akhir September, tiket masuk untuk satu orang dewasa sebesar 40 kroner di hari biasa dan 45 kroner di akhir pekan termasuk Jumat dan hari libur. Sedangkan pada periode 27 Februari sampai 30 April serta 1 Oktober sampai 15 Desember, ketika siang hari sangat pendek, harganya sebesar 35 kroner.

Admission fees vary according to the time of the year. In the summer months between May and September, adult tickets cost 40 crowns on weekdays and 45 crowns on the weekends including Fridays and holidays. From 27 February to 30 April and between 1 October and 15 December, when the days are short, the admission is 35 crowns.

vor-frelser-5
Stairs leading from the ground level to the 4th floor

Usai membeli tiket, saya mendaki perlahan sambil melihat-lihat ekshibisi yang ada di setiap lantai: dari memorial untuk Pastor Hans Peter Børresen, misionaris Denmark yang pernah ditugaskan di India; sampai lukisan-lukisan kanvas. Dengan cara ini, setidaknya orang lain tidak akan tahu kalau saya cepat pegal saat naik tangga. Sebaliknya, beberapa pengunjung segera melesat ke atas. Sepertinya mereka hanya tertarik dengan atraksi utama di sini dan tidak terlalu peduli dengan fitur-fitur lain.

After purchasing my ticket, I took my time climbing the stairs while having a look at the exhibitions on each floor: from a memorial plaque for Pastor Hans Peter Børresen, a Danish missionary to India; to canvas paintings. Other visitors would not know that I got tired easily when climbing stairs. On the other hand, I saw some of them rushing towards the upper floors. Apparently they were only interested in the tower’s main attraction and did not really care about other features.

vor-frelser-6
“Visit at your own risk.”

Makin ke atas tangga kayu di dalam menara makin sempit dan antik, kalau bukan seadanya. Ruang gerak juga kian terbatas. Terkadang jika ingin melihat-lihat saya terpaksa menepi ke jalan buntu agar orang di belakang saya bisa mendahului. Tak jarang pula saya harus menunggu di kaki tangga untuk memberi jalan pada para pengunjung yang turun dari atas menara sebab lebar tangga tak cukup untuk dilewati dua orang.

The further up I climbed, the wooden stairs grew narrower and looked older. Even the spaces to move around became more and more limited. Sometimes when I wanted to look around I had to edge toward a dead end to allow those behind me moving along upstairs. Often I had to wait at the bottom of the stairs to let visitors from the top to climb down because the stairs could not accommodate two people going on different directions at the same time.

Salah satu bagian penting dalam menara gereja ini adalah carillon, seperangkat lonceng yang dimainkan layaknya alat musik. 42 dari ke-48 loncengnya tersusun bertingkat-tingkat, sedangkan enam lonceng berukuran paling besar terpasang di balik teralis besi di lantai di bawahnya. Carillon di Vor Frelsers Kirke merupakan yang pertama kali ada di wilayah Nordik pada masa modern. Lonceng-lonceng pertama mulai dipasang pada tahun 1928 dengan masa instalasi lebih kurang lima tahun. Di sejumlah tempat saya melihat lampu oranye terpasang bersama sebuah pengumuman multibahasa (Denmark, Inggris, Jerman, Perancis, Italia) yang berbunyi, ‘WARNING! The bells are ringing.’ Rasa was-was langsung menyergap. Mudah-mudahan lampu oranye itu tak keburu berkedip saat saya masih di dalam. Entah bagaimana kalau sampai “terjebak” dalam ruangan sempit, dikepung lonceng-lonceng raksasa yang berdentang-dentang.

One of the church tower’s most important elements is the carillon, a set of bells played like a musical instrument. Out of the 48 bells in the tower, 42 were set inside a room on one side of the tower, while 6 of the largest bells were kept behind iron railings a level below.The Vor Frelsers Kirke’s carillon was the first of its kind in the Nordic region in modern times. Installation of the earliest bells began in 1928 and took 5 years to complete. I became rather anxious when noticing a number of orange lights along with multilingual announcements (in Danish, English, German, French, Italian) that said, ‘WARNING! The bells are ringing.’ I hoped the bells would not ring while I was still inside. What would happen if I was “trapped” inside the narrow tower, surrounded by ringing giant bells.

vor-frelser-7
Steep stairs. One-way at a time.

Semakin mendekati bagian teratas menara, tangga kayu yang dilalui bukan hanya semakin sempit tetapi juga semakin curam, bahkan nyaris vertikal. Ditambah lagi dengan balok-balok penyangga yang berseliweran di atas kepala. Saya yang untuk ukuran Eropa Utara tergolong berpostur kecil saja harus ekstra berhati-hati, apalagi orang-orang yang bertubuh jangkung. Mereka pasti sangat kerepotan di sini.

As I got closer to the upper floors, the wooden stairs not only became narrower but also grew steeper, even almost vertical. Not to say the many wooden beams criss-crossing over my head. Even I, who by Northern European standard  was considered petite, had to be extremely careful with my steps. The tall guys must have had difficult times here.

Setelah mendaki 250 anak tangga dari lantai terbawah, tibalah saya di dek observasi berupa platform terbuka yang mengitari bangunan menara. Angin langsung menerpa wajah saya begitu keluar dari pintu di ujung anak tangga teratas. Koridor platform sama sekali tidak lebar. Hanya cukup untuk dilalui dua orang, itu pun dengan bahu yang pasti bersinggungan jika mereka tidak memutar sedikit tubuhnya. Platform yang sempit ini hanya dibatasi selapis pagar besi. Tingginya kira-kira sepundak orang dewasa. Kota Copenhagen terhampar di bawah sana. Saya tak kuasa menahan senyuman puas. Cita-cita sudah kesampaian! Papan foto terpasang di beberapa tempat, menjelaskan bangunan-bangunan penting yang terlihat dari titik tersebut. Tetapi platform ini hanyalah level paling dasar dari atraksi sesungguhnya di sini: mendaki 150 anak tangga heliks sampai ke puncak menara. Sungguh bukan kegiatan menyenangkan untuk mereka yang gampang vertigo atau takut ketinggian!

After climbing 250 stairs from the entrance, I immediately felt the wind blowing on my face when I arrived at the observatory deck, an open platform round the tower. The platform’s corridor was not at all wide. There was barely a space for two persons to walk side-by-side. The narrow platform was secured by shoulder-high (or less!) railings. Looking at the view of Copenhagen lying far below, I couldn’t help not to smile. A dream had come true! Several pictures installed on the railings named the important landmarks that could be seen from those particular spots. But the platform was just the lowest level of the real attraction here: climbing 150 helix stairs to the top of the tower. Not at all a fun thing to do for those prone to vertigo or afraid of height!

vor-frelser-8

vor-frelser-9

Pemandangan 360 derajat Copenhagen berulang kali terpapar bergantian di depan mata. Semakin lama semakin jauh. Bekas wilayah perbentengan Christianshavn dengan selekoh-selekoh di sekelilingnya yang dibangun Raja Christian IV pada abad ke-17. Blok-blok apartemen membentuk persegi dengan ruang terbuka di tengah-tengahnya. Di kawasan pusat kota Copenhagen, menara-menara berujung lancip mencuat dari antara gedung-gedung sekitar yang tampak bagaikan balok LEGO. Ah, ya, LEGO. Saya baru ingat bahwa mainan saya semasa kecil itu berasal dari negara ini. Pelabuhan Copenhagen membelah ibukota, memisahkan pulau Zealand dan Amager; kanal-kanal kecil di belakangnya dipenuhi barisan kapal-kapal layar yang bersandar. Gedung Operaen (Opera House) dan Skuespilhuset (Royal Playhouse) berdiri berhadap-hadapan di mulut pelabuhan, seakan-akan menjaga pintu masuk ke dalam kota; kubah gereja Frederiks Kirke, yang juga dikenal sebagai Gereja Marmer, seolah tengah mengawasi keduanya. Deretan turbin angin raksasa tampak berderet di perairan Selat Øresund. Di seberang sana terlihat negara tetangga, Swedia, yang terhubung dengan wilayah Denmark melalui Jembatan Øresund. Beberapa kali pesawat terbang melintas, menuju bandar udara Copenhagen di Kastrup yang berada tak jauh dari situ.

Copenhagen’s 360° views looked like a film being played repeatedly, growing more and more distant each time. The site of the former Christianshavn fortress with its bastions built by King Christian IV in the 17th century. Apartment blocks with open spaces in the middle. In the city centre, tower spires soared above the buildings around them that looked like LEGO blocks. Oh, that just reminded me that my childhood toy had its origin in this country. Copenhagen harbour ran through the middle of the city, dividing the island of Zealand from Amager; yachts were parked along the small canals behind it. The Operaen (Opera House) and Skuespilhuset (Royal Playhouse) stood face-to-face on the harbour mouth, as if guarding the gate into the city, overseen by the dome of the Frederiks Kirke, also known as the Marble Church. Row upon row of gigantic wind turbines lined on the Øresund. Across the sea was Sweden, connected to its neighbouring country of Denmark by the Øresund Bridge. Aircrafts were seen flying over to the Copenhagen Airport in Kastrup, a short distance away.

vor-frelser-10
Copenhagen city centre
vor-frelser-11
Copenhagen harbour
vor-frelser-12
The Oresund Bridge between Denmark and Sweden

Tak terasa jarak saya dengan permukaan tanah semakin jauh. Saya melewati sejumlah pengunjung yang berbaris di sisi kanan tangga, bersandar pada pagar pembatas. Setelah beberapa kali berpapasan dengan orang-orang yang turun dari atas barulah saya sadar kalau saya salah jalur. Seorang pria yang berdiri di situ membenarkan pertanyaan saya bahwa mereka sedang mengantre untuk mencapai titik tertinggi menara. Saya cepat-cepat meminta maaf dan segera berbalik untuk mencari ekor antrean. Tetapi pria itu tersenyum dan mempersilakan saya “menyelak” di depannya. Ya, mendekati puncak menara lebar tangga semakin sempit saja, sehingga pengunjung harus naik dan turun secara bergantian. Kelebihannya, mereka bisa menikmati alone time di atas tanpa terlihat pengantre di belakangnya.

I was now so far away from the ground. As I was passing through the line of people on the right-side of the stairs,  I finally realised that I was on the wrong side after repeatedly running into people who were coming down the tower. I asked a guy if they were queuing to reach the top and he said yes. But before I made my way down, he allowed me to get into the queue in front of him. As we got nearer to the top, the stairs grew even narrower that visitors had to go up and down in turns. On the up side, they could enjoy their time alone up there without being seen by other visitors.

Giliran saya pun tiba. Coretan grafiti dan tempelan stiker peninggalan para “penakluk” sebelum saya mengotori pagar pembatas dan dinding menara. Sungguh disayangkan masih ada orang-orang yang mengabadikan petualangannya dengan cara-cara seperti itu. Puncak menara berupa globe bersepuh emas dengan patung Kristus setinggi tiga meter—juga disepuh dengan emas—berdiri di atasnya sambil memegang sebuah panji. Tetapi titik tertinggi yang bisa saya gapai hanya bagian bawah alas globe. Untuk sampai ke situ saja butuh keberanian luar biasa sebab kaki tak lagi bisa berdiri sejajar oleh karena tiada lagi ruang. Saya menatap pemandangan menakjubkan di bawah sana dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bangga bercampur tak percaya karena telah berhasil menuntaskan salah satu isi daftar must-do. Ada rasa gembira tak terhingga. Ada rasa syukur. Ada pula rasa ngeri sampai-sampai saya tak berani selfie di situ. Selain karena sama sekali tidak ahli, menjulurkan kamera—dengan tangan berkeringat—atau mencondongkan tubuh melewati pagar yang hanya selapis tanpa alat pengaman lain terlalu menyeramkan buat saya. Sambil tersenyum saya memandangi Copenhagen dan menatap alas globe di atas kepala saya untuk terakhir kalinya. Mission accomplished!

And finally it was my turn. Graffiti and stickers left by previous “conquerors” made the railings and tower walls looked dirty. What a sad thing to see. On the tower summit was a gold-plated globe with a 3-metre high statue of Christ–also plated in gold–standing on top of it while holding a banner. But the highest point I was able to reach was the bottom part of the globe base. It took a great deal of courage to get there because there was barely a space to stand straight. I stared at the stunning view down there, my feelings complicated. I felt proud of myself, but reality seemed yet to hit me that I’d accomplished one of my must-dos. I felt great happiness. I felt grateful. And I felt scared that I was unable to take selfie there. Not only because I was bad at it, but also because I found the idea of holding the camera (with a sweaty hand) or leaning out of the railings without any safety devices too horrifying. Smiling at myself, I stared out of the railings, at Copenhagen, and then looked up to the globe above my head for one last time. Mission accomplished!

vor-frelser-15

Advertisements